Tolak Eksploitasi, Pengemudi Ojek Online Unjuk Rasa Di Kantor Grab

Ratusan mitra pengemudi ojek dan taksi online berunjuk rasa di depan kantor Grab untuk menuntut lima hal. Selanjutnya, mereka akan berunjuk rasa di kantor Go-Jek pada Rabu (12/9) mendatang.

Di antara tuntutan mitra pengemudi kepada aplikator adalah kenaikan tarif. Selain itu, mereka juga menolak kebijakan aplikator menjadi perusahaan transportasi; menolak eksploitasi mitra; menolak kartelisasi dan monopoli bisnis transportasi online; serta, meminta pemerintah mencabut izin Grab dan Go-Jek bila aspirasinya tidak dipenuhi.

Unjuk rasa dimulai sejak pukul 09.00 di kantor Grab yang berada di Gedung Lippo, Kuningan, Jakarta. "Ada sekitar 600 mitra yang berunjuk rasa, mayoritas pengemudi taksi online," kata Ketua Umum Asosiasi Driver Online (ADO) Christiansen FW, Senin (10/9).

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Metro Jakarta Selatan, Komisaris Besar Indra Jafar turut menjadi mediator. Alhasil, tim negosiasi Grab hadir dan menemui para pengunjuk rasa pada jam makan siang.

Hanya, para mitra ingin Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata sendiri yang datang bernegosiasi. "Tapi, katanya dia tidak ada di kantor," ujarnya. "Kami mendorong supaya Ridzki dijemput untuk bertemu kami."

(Baca juga: Persaingan Go-Jek dan Grab Melebar ke Bisnis Konten dan Investasi)

Alhasil, para pengunjuk rasa bertahan hingga sore hari, menunggu sampai Ridzki mau menemui mereka. Jika tidak, para mitra mengancam bakal berunjuk rasa hingga sebulan penuh. Toh, beberapa dari mereka sedang diskors, sehingga tidak bisa bekerja.

Pada kesempatan yang sama, Perwakilan Aksi Gerakan Hantam Aplikator Nakal (Gerhana) Dedi Heriyantoni bercerita, Grab seringkali memberikan sanksi skors kepada mitra. Padahal, persoalannya sepele. “Misalnya, pengemudi menolak pesanan karena kami butuh berstirahat," ujarnya.

Menurutnya, kebijakan seperti ini tidak adil bagi mitra dan tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2013 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Yang di dalamnya mengatur seputar pengembangan, kemitraan, perizinan, koordinasi, dan pengendalian pemberdayaan UMKM.

Selain itu, kata Dedi, Grab terus merekrut pengemudi baru. Padahal, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melarang sementara perekrutan mitra baru. Grab pun belum menyesuaikan tarif sejak terbitnya Peraturan Menteri (Permen) Kemenhub Nomor 32 Tahun 2016, Nomor 26 Tahun 2017, dan Nomor 108 Tahun 2018.

Pengunjuk rasa membubarkan diri pada pukul 17.30. "Apabila belum ada tindak lanjut lebih baik dari Grab, kami akan menggalang masa lebih besar," kata Dedi. Mereka juga merencanakan unjuk rasa dengan tuntutan serupa di depan kantor Go-Jek pada Rabu (12/9).

(Baca juga: Go-Jek Dikabarkan Tanam Modal di Kumparan)

Namun, pada sore hari, unjuk rasa sempat ricuh lantaran salah satu pengunjuk rasa perempuan mengadukan pelecehan secara verbal dari seorang polisi.

Menanggapinya, Kapolres Indra Jafar pun menyampaikan permohonan maaf. "Kami juga akan menyelidiki salah satu anggota kami yang diduga melakukan pelecehan verbal," katanya.

Source : https://www.msn.com/id-id/news/other/tolak-eksploitasi-pengemudi-ojek-online-unjuk-rasa-di-kantor-grab/ar-BBN7Hgy

Tolak Eksploitasi, Pengemudi Ojek Online Unjuk Rasa di Kantor Grab
Unjuk Rasa di Kantor Grab Berakhir, Polisi: Situasi Kondusif
Demo Taksi Online di Kantor Gojek, Polisi Siapkan 60 Personel Negosiator
Kantor Gojek Didatangi Puluhan Pengemudi Taksi Online, Tuntut Empat Hal
Setelah Grab, Giliran Go-Jek Didemo Mitra Pengemudinya
Giliran Kantor Gojek Digeruduk Driver Taksi Online
Grab Berhentikan Puluhan Ribu Pengemudi Nakal
Demo di Gedung Lippo, Pengemudi Online Minta Bos Grab Temui Massa Aksi
[LIMITED STOCK!] Related eBay Products